DAMPAK PERILAKU DAN FENOMENA PANDEMI COVID-19

Penulis : Muhammad Fadli
 
Sumber gambar : google.com

    Pada awal tahun 2020 ini dunia dikejutkan dengan wabah virus corona (Covid-19) yang menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. WHO Semenjak Januari 2020 telah menyatakan dunia masuk kedalam darurat global terkait virus ini. Ini merupakan fenomena luar biasa yang terjadi di bumi pada abad ke 21, yang skalanya mungkin dapat disamakan dengan Perang Dunia II. Terhitung mulai tanggal 19 Maret 2020 sebanyak 214.894 orang terinfeksi virus corona, 8.732 orang meninggal dunia dan pasien yang telah sembuh sebanyak 83.313 orang.

   Khusus di Indonesia sendiri Pemerintah telah mengeluarkan status darurat bencana terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi virus ini dengan jumlah waktu 91 hari. Langkah-langkah telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan kasus luar biasa ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan Social Distancing. Konsep ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus mata rantai infeksi Covid-19 seseorang harus menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter, dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, menghindari pertemuan massal.

    Tetapi banyak masyarakat yang tidak menyikapi hal ini dengan baik, seperti contohnya pemerintah sudah meliburkan para siswa dan mahasiswa untuk tidak berkuliah atau bersekolah ataupun memberlakukan bekerja didalam rumah, namun kondisi ini malahan dimanfaatkan oleh banyak masyarakat untuk berlibur. Selain itu masih banyak juga masyarakat Indonesia yang menganggap enteng virus ini, dengan tidak mengindahkan himbauan-himbauan pemerintah.

    Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku pengguna media social saat presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama Covid-19 pada 2 maret 2020 lalu, Namun media semakin intens memberitakan kasus Covid-19 membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait Covid-19 melalui berbagai media. Tak terkecuali di telivisi.

    Pemberitaan media pada masa Covid-19 saat ini sangat penting untuk mecari informasi secara cepat dan memangkas batasan jarak yang ada, Seperti informasi dan berita mengenai pandemi Covid-19 yang terjadi hampir di seluruh dunia, derasnya informasi yang dicari oleh para pengguna media sosial menempatkan keyword “virus corona” atau “covid-19” menjadi kata populer diseluruh search engine yang ada di media sosial.

    Pemberitaan media mengenai Covid-19 ini menyebabkan masyarakat menjadi mengalami psikosomatik di karenakan penyebaran informasi yang simpang siur dan tidak sinkron satu sama lain menyebabkan timbul kecemasan dan ketakukan yang berlebihan dan dampaknya berupa panic buying yang dimana semua kebutuhan penting menjadi langka karena masyarakat membelinya dengan jumlah yang sangat besar, dan justru ada masyarakat yang memanfaatkan situasi dengan cara memborong barang-barang tersebut kemudian menjual lagi dengan harga yang sangat mahal dan terjadi lonjakan harga yang tidak masuk akal, dan setiap pemberitaan media selama pandemi Covid-19 justru simpang siur, cenderung mempropaganda masyarakat dan menjadikan masyarakat menjadi egois dan apatis, yang melupakan sifat kemanusiaan mereka sehingga lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang yang membutuhkan pertolongan.

    Pola komunikasi memiliki pengaruh kuat dalam membantu masyarakat di tengah pandemi Covid-19, karna dapat menjadi cara yang tepat untuk menyebarkan kebaikan di masyarakat. Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis, mengatakan efek dari pendemi Covid-19 ini juga mengubah ubah pola komunikasi masyarakat. Pandemi yang telah menyebar ke seluruh dunia ini menyebabkan banyak aktivitas terganggu mulai dari sekolah, bekerja, ekonomi dan juga bisnis. Hal ini juga menggeser kebiasaan banyak orang. Kini tidak ada lagi kumpul-kumpul, universitas memindahkan ruang kelas ke ruang-ruang virtual dan banyak perusahaan menerapkan kebijakan kerja dari rumah dalam beberapa pekan terakhir. Pandemi telah mengubah cara orang bekerja, bersosialisasi, termasuk dalam menggelar sebuah acara, Perubahan pola melalui media sosial tersebut secara dinilai tepat untuk membatasi ruang gerak persebaran virus Covid-19.

    Penyebaran virus corona covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan sosial di masyarakat yang salah satunya didukung dengan teknologi komunikasi. Masyarakat dituntut bisa dan terbiasa. Perubahan terjadi pada cara berkomunikasi, cara berpikir, dan cara berperilaku manusia. Sebenarnya perubahan sosial ini lantaran pandemi corona covid-19 ini sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi melalui digitalisasi yang tanpa kita sadari sudah merealisasikannya.

    Menurut Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014), terdapat tiga pendekatan dalam berkomunikasi antarmanusia.

    1. Pendekatan scientific (ilmiah-empiris). Umumnya, pendekatan ini berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta. Cara pandang yang menekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara known (objek yang ingin diketahui dan diteliti) serta knower (subjek pelaku atau pengamat).

    2. Pendekatan Humanistic (Humaniora Interpretatif). Ini merupakan pendekatan dengan cara pandang yang mengasosiasikan dengan prinsip subjektivitas. Manusia mengamati sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya , membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang di lingkungannya.

    3. Yang ketiga adalah Pendekatan Social Sciences (Ilmu Sosial). Ini merupakan gabungan dari pendekatan scientific dan humanistic di mana objek studinya adalah kehidupan manusia, termasuk di dalamnya memahami tingkah laku manusia.

    Tampak jelas bahwa manusia membutuhkan kesempatan secara langsung untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan di sekitarnya. Di sinilah terlihat kondisi pandemic corona Covid-19 jauh dari ideal hubungan manusia secara humanis.

    Kita tetap bisa bersosialisasi melalui berbagai media di era globalisasi ini yang menuntut pada kecanggihan komunikasi digital untuk tetap berinteraksi sosial. Media-media yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai media pemasaran, media interaksi, media pembelajaran. Jembatan komunikasi melalui media-media tersebut tentunya dapat memberikan edukatif, informatif, dan persuasif. Media yang dimaksud digunakan tanpa melakukan kontak fisik di antaranya Zoom Meeting, tiktok, twitter, facebook, instagram, line, dan whatsapp. Teknologi saat ini sudah berkembang demikian pesat sehingga kita bisa tetap saling terhubung tanpa harus secara fisik berada di dalam ruangan atau tempat yang sama.

    *Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN SU, dan anggota kelompok KKN-DR 01 UIN SU