Cermin Keikhlasan dan Pengorbanan dari kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As
“ Maka dirikanlah Sholat
dan Berkubanlah..”
Nabi
Ibrahim AS merupakan salah satu dari 25 Nabi yang wajib kita imani dari sekian
banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan Risalah
Ilahiyah-Nya. Ia merupakan seseorang yang mahsyur dengan perangai
kebajikan di dalam dirinya. Bahkan banyak kisah dalam hidupnya yang fenomenal
dan mengandung hikmah. Dalam kenabian ia pun dijuluki sebagai “Bapak nya para
Nabi”. Salah satu kisah hidupnya yang menjadi sumur inspirasi bagi kita adalah
kisah nya dengan anaknya, Nabi Ismail AS.
Kala
itu, Nabi Ibrahim AS dirundung duka hatinya. Bagaimana tidak, hingga usianya
yang telah lanjut usia, ia belum juga dikarunia anak. Hal itu membuatnya sedih sepanjang waktu. Namun
didalam kesedihannya itu, ia tetap bertawakkal dan tidak pernah jemu untuk
berdoa kepada Allah agar ia diberikan keturunan. Hingga suatu hari Alllah
mengabulkan doa Nabi Ibrahim tersebut dengan sebuah berita yang disampaikan
malaikat Jibril bahwa ia akan segera di karunia seorang putra. Ialah Nabi
Ismail AS yang pada kemudian hari menjadi penerus risalah kenabian ayahnya.
Nabi
Ibrahim teramat girang hatinya dengan kehadiran Ismail kecil. Ia sangat
menyayangi putranya itu dan selalu tersenyum melihat tingkahnya. Kasih sayang
yang sempurna ia berikan sebagai seorang ayah kepada anaknya Ismail. Hingga pada suatu malam, Nabi Ibrahim
bermimpi ia menyembelih anaknya Ismail. Nabi Ibrahim kemudian bangun dan
merenungi apa gerangan maksud dari mimpinya tersebut. Ia berdoa dan meminta
jawaban kepada Allah hingga hatinnya yakin bahwa mimpi tersebut merupakan perintah
dari Allah yang harus di laksanakan.
Nabi
Ibrahim AS kalut. Ia menghadapii dilema besar dalam hatinya. Sebagai seorang
ayah, ia tak sanggup untuk kehilangan putra yang amat dicintainya. Namun di
sisi lain, sebagai seorang utusan Allah ia menyadari bahwa perintah itu benar
adanya dan harus segera ia laksanakan. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan hal
tersebut kepada anaknya, Ismail. Nabi Ibrahim sambil ragu-ragu berkata kepada
Ismail, “ Wahai anakku! Sesungguhnya aku telah bermimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka bagaimanakah tanggapanmu akan hal itu?”.
Awalnya
Nabi Ibrahim berfikir bahwa Ismail akan bersedih hati atau bahkan marah
mendengar hal tersebut. Nabi Ibrahim pun memaklumi atas hal tersebut, sebab
perkara yang disampaikannya bukan hal yang remeh. Nabii Ibrahim pun terus
menguatkan hati sembari menunggu jawaban dari Ismail. Ia seakan telah bersedia mendengar ratapan ataupun kemarahan
yang akan dikatakan Ismail. Namun sungguh diluar dugaan. Ismail yang dikira
akan bersedih ataupun marah justru memberikan komentar yang luar biasa atas
kegelisahan ayahnya itu. Ia berkata, “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu mendapati aku termasuk orang-orang
yang sabar”. Percakapan ini bahkan terabadikan di dalam Al-Qur’an, pada
Surrah As-Shafat ayat 102.. Mendengar jawaban putranya, Nabi Ismail bertambah
luruh hatinya. Ia telah menyaksikan kebesaran hati anaknya untuk menjalankan
perintah Allah.
Maka
pergilah keduanya ke tempat bernama Mina. Sepanjang perjalanan, keduanya terus
berdzikir kepada Allah agar kiranya Allah memberikan kekuatan dan ketabahan
dalam mereka menjalankan perintah-Nya yang amat berat ini. Sesampainya ditempat
yang dimaksud, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan kemudian menutupi wajahnya
dengan kain. Ia tak sanggup menyaksikan wajah anaknya ketika ia menyembelihnya
nanti. Dalam detik-detik yang menegangkan itu, hati keduanya telah sepenuhnya
pasrah kepada Allah. Sungguh ini merupakan suatu dugaan yang tidak mudah. Sikap
manusiiawi yang dimiliki membuat ketidak mungkinan akan seorang ayah menyembelih
putranya sendiri. Dan begitupun, tidak ada yang bersedia menyerahkan dirinya
untuk di sembelih. Namun kekuatan iman mampu menutupi rasa takut yang timbul di
hati. Saat itulah, ketika Nabi Ibrahim telah bersiap menyembelih putranya,
terdengarlah seruan Allah kepadanya. “ Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu
telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata”. Tak lama kemudian, malaikat Jibril membawa membawa kambing
besar dan meletakkannya sebagai pengganti Ismail yang akan disembelih. Dari
peristiwa inilah kemudian turun perintah Allah bagi seluruh umat Muslim untuk
menunaikan ibadah Qurban.
Dari
kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
diatas, kita mampu menarik sebuah benang merah tentang makna pengorbanan
dan keikhlasan. Hal itu dapat tercermin pada sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
dalam menghadapi perintah Allah yang harus dikerjakannya. Fitrah manusia
membuat Nabi Ibrahim merasa tak tega
menyembelih anaknya, dan Nabi Ismail pun pasti diselimuti rasa ketakutan
yang amat dahsyat. Namun, ketika mengingat hakikat kehambaan yang ada, dan
menyadari bahwa ini merupakan perintah dari Allah yang tentu mengandung hikmah,
mereka meneguhkan hati untuk melakukannya.
Dan
Allah pun melihat hal ini. Allah mengetahui bagaimana keikhlasan dan
pengorbanan seorang hamba demi perintah Tuhannya. Sebab dari awal perintah ini
datang sebagai ujian keimanan dan keikhlasan kepada keduanya. Apakah Allah atau
hal lain yang lebih dicintainya?. Dan Nabi Ibrahim beserta anaknya Nabi Ismail
menjawab hal ini dengan keyakinan akan janji Allah kepada hamba-Nya yang taat
menjalankan perintahnya.
Begitulah,
ternyata Allah hendak mengajari kita tentang makna pengorbanan dan keikhlasan.
Ketika kita mencintai sesuatu, sanggupkah kita mengorbankannya demi Allah? Dan
ketika kita harus melakukan sesuatu, mampukah kita ikhlas karna Allah?
Ketika
kita tidak mampu, itu menunjukkan bahwa kita lebih mencintai sesuatu daripada
Allah. Hingga perintah Allah terasa tidak penting, hingga kita lebih memilih
sesuatu yang fana dan sedikit dibanding janji Allah yang abadi dan amat luas. Sebaliknya, ketika kita memilih
Allah dengan ikhlas dan ridho, disanalah Allah memberikan apa yang kita
inginkan bahkan lebih. Kembali lagi, bahwa Allah hanya hendak menguji “Apa
dan siapa yang lebih kita cintai, Allah ataukah yang lain?”
Dan
bukankah dalam hidup, seringkali ketika kita tidak tahu harus apa dan kemana,
saat detik-detik terakhir yang menghimpit, saat satu-satunya yang kita punya
dan kita yakini hanyalah Allah, saat itulah Allah memberikan pertolongan sekaligus janji-Nya?
Maha
Suci Allah, Semoga kita mampu menangkap hikmah di setiap peristiwa.
*Penulis merupakan mahasiswi jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN SU dan anggota kelompok KKN DR-01 UIN SU 2020


