Cermin Keikhlasan dan Pengorbanan dari kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As


Penulis : Rissa Niantha

Sumber gambar : umma.id

  “ Maka dirikanlah Sholat dan Berkubanlah..”

Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu dari 25 Nabi yang wajib kita imani dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan Risalah Ilahiyah-Nya. Ia merupakan seseorang yang mahsyur dengan perangai kebajikan di dalam dirinya. Bahkan banyak kisah dalam hidupnya yang fenomenal dan mengandung hikmah. Dalam kenabian ia pun dijuluki sebagai “Bapak nya para Nabi”. Salah satu kisah hidupnya yang menjadi sumur inspirasi bagi kita adalah kisah nya dengan anaknya, Nabi Ismail AS.

Kala itu, Nabi Ibrahim AS dirundung duka hatinya. Bagaimana tidak, hingga usianya yang telah lanjut usia, ia belum juga dikarunia anak. Hal itu  membuatnya sedih sepanjang waktu. Namun didalam kesedihannya itu, ia tetap bertawakkal dan tidak pernah jemu untuk berdoa kepada Allah agar ia diberikan keturunan. Hingga suatu hari Alllah mengabulkan doa Nabi Ibrahim tersebut dengan sebuah berita yang disampaikan malaikat Jibril bahwa ia akan segera di karunia seorang putra. Ialah Nabi Ismail AS yang pada kemudian hari menjadi penerus risalah kenabian ayahnya.

Nabi Ibrahim teramat girang hatinya dengan kehadiran Ismail kecil. Ia sangat menyayangi putranya itu dan selalu tersenyum melihat tingkahnya. Kasih sayang yang sempurna ia berikan sebagai seorang ayah kepada anaknya  Ismail. Hingga pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi ia menyembelih anaknya Ismail. Nabi Ibrahim kemudian bangun dan merenungi apa gerangan maksud dari mimpinya tersebut. Ia berdoa dan meminta jawaban kepada Allah hingga hatinnya yakin bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah yang harus di laksanakan.

Sumber gambar : youtub.com/kisahislami

Nabi Ibrahim AS kalut. Ia menghadapii dilema besar dalam hatinya. Sebagai seorang ayah, ia tak sanggup untuk kehilangan putra yang amat dicintainya. Namun di sisi lain, sebagai seorang utusan Allah ia menyadari bahwa perintah itu benar adanya dan harus segera ia laksanakan. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan hal tersebut kepada anaknya, Ismail. Nabi Ibrahim sambil ragu-ragu berkata kepada Ismail, “ Wahai anakku! Sesungguhnya aku telah bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah tanggapanmu akan hal itu?”.

Awalnya Nabi Ibrahim berfikir bahwa Ismail akan bersedih hati atau bahkan marah mendengar hal tersebut. Nabi Ibrahim pun memaklumi atas hal tersebut, sebab perkara yang disampaikannya bukan hal yang remeh. Nabii Ibrahim pun terus menguatkan hati sembari menunggu jawaban dari Ismail. Ia seakan telah  bersedia mendengar ratapan ataupun kemarahan yang akan dikatakan Ismail. Namun sungguh diluar dugaan. Ismail yang dikira akan bersedih ataupun marah justru memberikan komentar yang luar biasa atas kegelisahan ayahnya itu. Ia berkata, “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”. Percakapan ini bahkan terabadikan di dalam Al-Qur’an, pada Surrah As-Shafat ayat 102.. Mendengar jawaban putranya, Nabi Ismail bertambah luruh hatinya. Ia telah menyaksikan kebesaran hati anaknya untuk menjalankan perintah Allah.

Maka pergilah keduanya ke tempat bernama Mina. Sepanjang perjalanan, keduanya terus berdzikir kepada Allah agar kiranya Allah memberikan kekuatan dan ketabahan dalam mereka menjalankan perintah-Nya yang amat berat ini. Sesampainya ditempat yang dimaksud, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan kemudian menutupi wajahnya dengan kain. Ia tak sanggup menyaksikan wajah anaknya ketika ia menyembelihnya nanti. Dalam detik-detik yang menegangkan itu, hati keduanya telah sepenuhnya pasrah kepada Allah. Sungguh ini merupakan suatu dugaan yang tidak mudah. Sikap manusiiawi yang dimiliki membuat ketidak mungkinan akan seorang ayah menyembelih putranya sendiri. Dan begitupun, tidak ada yang bersedia menyerahkan dirinya untuk di sembelih. Namun kekuatan iman mampu menutupi rasa takut yang timbul di hati. Saat itulah, ketika Nabi Ibrahim telah bersiap menyembelih putranya, terdengarlah seruan Allah kepadanya. “ Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”. Tak lama kemudian, malaikat Jibril membawa membawa kambing besar dan meletakkannya sebagai pengganti Ismail yang akan disembelih. Dari peristiwa inilah kemudian turun perintah Allah bagi seluruh umat Muslim untuk menunaikan ibadah Qurban.

Sumber gambar : kelaskayu.com

Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  diatas, kita mampu menarik sebuah benang merah tentang makna pengorbanan dan keikhlasan. Hal itu dapat tercermin pada sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menghadapi perintah Allah yang harus dikerjakannya. Fitrah manusia membuat Nabi Ibrahim merasa tak tega  menyembelih anaknya, dan Nabi Ismail pun pasti diselimuti rasa ketakutan yang amat dahsyat. Namun, ketika mengingat hakikat kehambaan yang ada, dan menyadari bahwa ini merupakan perintah dari Allah yang tentu mengandung hikmah, mereka meneguhkan hati untuk melakukannya.

Dan Allah pun melihat hal ini. Allah mengetahui bagaimana keikhlasan dan pengorbanan seorang hamba demi perintah Tuhannya. Sebab dari awal perintah ini datang sebagai ujian keimanan dan keikhlasan kepada keduanya. Apakah Allah atau hal lain yang lebih dicintainya?. Dan Nabi Ibrahim beserta anaknya Nabi Ismail menjawab hal ini dengan keyakinan akan janji Allah kepada hamba-Nya yang taat menjalankan  perintahnya.

Begitulah, ternyata Allah hendak mengajari kita tentang makna pengorbanan dan keikhlasan. Ketika kita mencintai sesuatu, sanggupkah kita mengorbankannya demi Allah? Dan ketika kita harus melakukan sesuatu, mampukah kita ikhlas karna Allah?

Ketika kita tidak mampu, itu menunjukkan bahwa kita lebih mencintai sesuatu daripada Allah. Hingga perintah Allah terasa tidak penting, hingga kita lebih memilih sesuatu yang fana dan sedikit dibanding janji Allah yang abadi dan  amat luas. Sebaliknya, ketika kita memilih Allah dengan ikhlas dan ridho, disanalah Allah memberikan apa yang kita inginkan bahkan lebih. Kembali lagi, bahwa Allah hanya hendak menguji “Apa dan siapa yang lebih kita cintai, Allah ataukah yang lain?”

Dan bukankah dalam hidup, seringkali ketika kita tidak tahu harus apa dan kemana, saat detik-detik terakhir yang menghimpit, saat satu-satunya yang kita punya dan kita yakini hanyalah Allah, saat itulah Allah memberikan pertolongan  sekaligus janji-Nya?

Maha Suci Allah, Semoga kita mampu menangkap hikmah di setiap peristiwa.

*Penulis merupakan mahasiswi jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN SU dan anggota kelompok KKN DR-01 UIN SU 2020