Mengenal Moderasi Beragama
Indonesia
sebagai sebuah negara yang memuat banyak sekali keberagaman yang terdiri dari
keberagaman suku, bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama, dewasa ini
seringkali diterpa isu tentang radikalisme. Gerakan-gerakan yang mengatasnamakan
kelompok tertentu ini semakin hari semakin tumbuh dan secara terang-terangan
menyuarakan ideologi mereka. Aksi teror, penculikan, penyerangan, bahkan
pengeboman pun kian marak terjadi.
Dari
berbagai macam keberagaman yang dimiliki negara Indonesia, keberagaman agama
menjadi yang terkuat dalam membentuk radikalisme di Indonesia. Munculnya
kelompok-kelompok ekstrim yang kian hari semakin mengembang sayapnya difaktori
berbagai hal seperti sensitifitas kehidupan beragama, masuknya aliran kelompok
ekstrem dari luar negeri, bahkan permasalahan politik dan pemerintahan pun
turut mewarnai. Maka ditengah hiruk-pikuk permasalahan radikalisme ini, muncul
sebuah istilah yang disebut “Moderasi
beragama” lalu timbul sebuah pertanyaan tentang “apa yang sebenarnya
dimaksud dengan moderasi beragama itu?’
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata moderasi diartikan sebagai pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman. Sehingga moderasi Bergama difahami sebagai sebuah sikap menghindari keekstreman dalam beragama dengan tetap menjalankan kewajibannya sebagai pemeluk agama tertentu. Dikutip dari website radarjember.jawapos.com, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Sementara itu, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam berbagai kesempatan sering mengatakan bahwa moderasi beragama adalah sebuah jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia. Ia adalah warisan budaya Nusantara yang berjalan seiring dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan local (local wisdom). Demikianlah moderasi beragama dalam beberapa definisi yang kesemuanya mengarah pada satu sikap yaitu menolak radikalisme.
Moderasi
beragama sangat dibutuhkan dalam kehidupan, terutama pada negara dengan
kebudayaan dan agama yag heterogen seperti Indonesia. Hal ini disebabkan,
keberadaannya mampu mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara serta menghindarkan
dari perpecahan dan kerusaha yang disebabkan sikap dan tindakan yang mengandung
unsur ekstremisme.
Oleh
sebab itulah, pemerintah Indonesia semakin giat menyerukan kampanye tentang
moderasi beragama ini dalam berbagai kesempatan dan elemen masyarakat. Mulai
dari rumah ibadah, lingkungan tempat tinggal, bahkan sekolah. Hal ini ditujukan
untuk menekankan pentingan toleransi dalam kehidupan beragama dan mencegah
timbulnya sikap ekstrem yang hanya merugikan. Pemerintah Indonesia melalui
Menteri Agama juga sempat mengeluarkan modul yang memuat materi tentang
moderasi beragama.
Maka
kita selaku masyarakat Indonesia yang baik dan selaku ummat beragama yang
taat hendaknya turut mendukung gerakan
anti radikallisme ini. Sebab kita mengetahui bahwa radikalisme adalah sikap
buruk yang hanya akan mendatangkan
kerugian. Apalagi jika pemahaman itu diwujudkan dalam tindakan-tindakan ekstrem
seperti kekerasan yang marak terjadi. Kita pun mengetahui bahwa dakwah memang
harus dilaksanakan, namun dengan cara-cara yang menyejukkan. Sebab demikianlah
hakikat Islam Rahmatan Lil’alamiin, pembawa rahmat bagi sekalian alam.
Lantas bagaimana pulla rahmat akan disampaikan dalam wujud kekerasan?
Semoga kita semua mampu menjalankan kewajiban kita untuk menyerukan kebaikan dengan cara yang baik pula.

